![risa2[1]](http://tenoctave.com/wp-content/uploads/2014/08/risa21-184x300.jpg)
Hai, namaku Arisanti, biasanya sih dipanggil Risa, bisa
juga dipanggil Santi, tapi jangan pernah panggil aku Ari! karena aku bukan
cowok! Umurku saat ini 25 tahun dan baru saja menikah tiga bulan yang lalu.
Suamiku seorang pelaut yang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di lautan
lepas. Baru tiga bulan dia cuti tapi kini dia harus kembali melaut. Aku bertemu
dengan mas Agung setelah dikenalkan oleh teman kuliah S2 ku. Sejak saat itu
hubungan kami makin akrab hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah.
Awalnya aku tidak memutuskan untuk berkarir setelah lulus S2, karena bagiku
sendiri pendidikan bukan semata untuk mencari kerja. Namun mas Agung menyuruhku
agar memiliki kegiatan agar aku tidak bosan di rumah.
Ya… benar juga sih, dari
pada aku hanya bengong sendiri di rumah mending aku cari kegiatan. Akhirnya aku
membuka butik kecil, sekedar untuk mengisi waktu dan menyalurkan hobi
fashionku. Sejak mas Agung kembali
melaut, aku hanya ditemani pembantuku Pak Karmin di rumah. Sebelum pergi,
suamiku memang meminta Pak Karmin menjagaku. Tentu saja menjagaku dalam artian
sebenarnya. Mengenai pembantu kami Pak Karmin, dia sudah berkerja di keluarga
suamiku sejak dulu. Setelah aku dan suamiku menikah, suamiku membawa Pak Karmin
ikut bersama kami di sini. Dia bertugas beres-beres rumah dan memasak. Tapi
untuk mencuci dan menggosok aku masih mengerjakannya sendiri, karena aku tidak
nyaman bila pakaianku disentuh oleh orang lain, terutama pakaian dalamku. Meski
sudah berumur dan agak kurus, tapi badannya masih terlihat kuat, urat-uratnya
terlihat menonjol di lengannya. Mungkin di masa mudanya dia adalah seorang
pekerja keras, dia tidak tampak seperti berumur lima puluh tahun. Padahal baru
satu minggu, tapi aku sudah rindu belaian suamiku. Ku putuskan untuk masturbasi
sendiri sambil mandi di kamar mandi. Aku pilih kamar mandi yang ada di dekat
dapur karena kamar mandi di kamarku sedang rusak. Lagi asik-asiknya mandi, eh
tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ternyata Pak Karmin. Tentu saja aku
langsung teriak.
Dia lalu berjalan sambil mengangkang, sepertinya dia
betul-betul sedang kebelet, aku sampai tertawa melihat gaya berjalannya itu.
Akupun juga beranjak dari sana menuju kamarku. Duh, aku baru ingat kalau
pakaian dalamku tertinggal di kamar mandi. Setelah selesai memakai baju, aku
kembali ke sana. Pak Karmin sudah tidak ada di kamar mandi, sepertinya dia
sudah kembali ke kamarnya. Akhirnya ku temukan pakaian dalamku, syukurlah masih
tergantung di tempatnya . Tapi tunggu… ku lihat ada noda putih di celana
dalamku. Karena penasaran ku coba merabanya. Lengket! Apa jangan-jangan ini… ku
coba mencium baunya, bau bayclin! Tidak salah lagi, ini peju! Sungguh kurang
ajar, siapa lagi pelakunya kalau bukan Pak Karmin. Seenaknya ngepejuin celana
dalam istri majikannya. Baru seminggu ditinggal pergi suamiku, dia sudah
ngelunjak dan berbuat tidak senonoh begini. Tapi entah kenapa aku merasakan
suatu getaran didadaku. Baru kali ini aku memegang dan mencium sperma laki-laki
lain selain milik suamiku, apalagi itu sperma milik Pak Karmin, kacungku. Suatu
sensasi yang aneh. Ya sudahlah, untuk kali ini ku maafkan dirinya, mungkin dia
lagi horni. Ku letakkan pakaian dalamku itu ke tempat cucian kotor. Esoknya,
entah kenapa aku punya ide gila. Kali ini setelah selesai mandi pagi, aku malah
sengaja meninggalkan celana dalam dan bra ku di kamar mandi. Aku penasaran
apakah kali ini Pak Karmin akan mengulangi perbuatannya kemarin. Setelah
menunggu sekian lama dan memastikan Pak Karmin sudah pernah masuk ke kamar
mandi. Aku kembali menjemput pakaian dalamku itu. Dan.. benar saja, celana
dalamku dipejuinnya lagi. Sungguh kurang ajar. Kalau suamiku tau, bisa dihajar
tuh kacung, seenaknya saja ngepejuin dalaman istrinya yang cantik ini.
Seharusnya aku mengadukan perbuatannya ini ke suamiku, tapi karena aku adalah
istri majikan yang baik, maka tidak ku lakukan, hihihi. Akhirnya ku letakkan
lagi celana dalamku yang penuh sperma itu ke tumpukan cucian kotor. Setiap
hari, aku selalu berbaik hati meninggalkan celana dalamku saat selesai mandi.
Yang tentu saja terus berlumuran peju Pak Karmin karenanya. Aku cuek saja
pura-pura tidak tahu. Tapi si Karmin ini makin lama makin menjadi-jadi saja
perangainya, mentang-mentang tidak pernah ku tegur. Pernah dia malah sengaja
menumpahkan spermanya di dalam lemari kecil tempat aku meletakkan dalamanku,
membuat seluruh dalamanku jadi kotor berlumuran spermanya. Tentu saja harus ku
cuci semua, terpaksa hari itu aku tidak pakai dalaman. Bahkan kemarin ini dia
malah menumpahkannya di tempat tidurku, membuat bantal yang biasa ku gunakan
terkena ceceran pejunya. Terpaksa tadi malam aku harus tidur dengan bau pejunya
itu. Dan karena aku biasa tidur telanjang, membuat kulitku jadi bersentuhan
langsung dengan bekas-bekas noda spermanya itu.
| Pak Karmin |
| Toyib |
Esoknya, tukang ledeng datang untuk memperbaiki kamar
mandi yang ada di kamarku. Yang kutahu orang ini kenalannya si Karmin, sepertinya
umurnya jauh lebih muda dari Pak Karmin, mungkin sekitar tiga puluhan. Tapi
tetap saja wajahnya sebelas dua belas dengan Pak Karmin ini, buruk rupa.
Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini, tapi
ku turuti juga perintahnya dan kembali membantu mereka memegang selang itu
sehingga vagina dan buah dadaku kembali terbuka untuk dinikmati oleh mata
mereka. Di sini, aku satu-satunya wanita, sedang bertelanjang bulat di tengah
pria-pria yang statusnya jauh di bawahku. Risih, takut, malu, dan horni
semuanya bercampur jadi satu. Selama beberapa saat aku terus disini memegangi
selang ini, mereka juga sesekali melirik ke arahku, menatap lekat-lekat tubuh
telanjangku ini. Yang selama ini hanya suamiku yang melihatnya, kini sedang
dipelototi dengan tatapan mesum oleh pria-pria ini. Akhirnya selesai juga, aku
langsung berlari keluar untuk mengenakan handukku yang lain. Tidak lama mereka
juga keluar dari kamar mandi.
“Gila, mantap banget, masih pink, seger banget tuh memek,
pengen gue sodok rasanya” Ujar Toyib vulgar. Vaginaku memang rajin kurawat,
tentu saja tujuannya memang untuk suamiku. Warnanya juga masih pink dan tentu
saja masih sempit. Kulihat mereka makin cepat mengocok penisnya, aku juga
sebenarnya juga makin horni. Rasanya aku ingin menggesek-gesekkan jariku pada
klirotisku saat ini juga. Tapi mana mungkin aku melakukannnya di depan mereka,
gengsi dong. Vaginaku terasa sangat becek, bahkan ada cairan yang mengalir
jatuh melewati pahaku, dan sepertinya hal itu kelihatan oleh mereka. Duh,
jantungku berdebar kencang, begitu memalukan.
Aku yang sudah sangat horni lalu menarik tangan mereka
berdua ke ranjang, aku sudah betul-betul tidak tahan untuk dipuasi. Pak Karmin
langsung menindih tubuhku, kulit kasarnya yang hitam bergesekan dengan kulit
putih mulusku. Dia lalu dengan ganasnya mencium bibir tipisku sambil meremas
buah dadaku, aku yang memang sudah bernafsu mencoba mengimbangi dan membalas
ciumannya. Sedangkan Toyib saat ini sedang menjilati bagian tubuhku yang lain
seperti tangan, perut dan pahaku sambil tangannya juga meremas buah dadaku yang
satunya. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini, dikeroyok oleh dua orang
laki-laki, terlebih orang itu kacung dan tukang ledeng, betul-betul gila. Sekarang
gantian Toyib yang menciumi bibirku, sedangkan Pak Karmin mengulum buah dadaku,
menjilati dan menggigit-gigit puting payudaraku yang sudah tegak mancung.
Tangan Pak Karmin juga dengan nakalnya mengulek-ulek vaginaku, membuat aku jadi
mendesah kenikmatan. Sambil tetap berciuman denganku, si Toyib juga ikut-ikutan
memainkan jarinya di vaginaku. Jadilah lubang vaginaku kini dipenuhi oleh
jari-jari mereka berdua, aku merasa seperti kesetrum karena rangsangan mereka
yang tidak ada habis-habisnya itu. Bahkan aku sampai klimaks dibuatnya.
“Ah, sial lu Yib, jadi becek gini, padahal gue juga
pengen nyemprot di dalam” kata Pak Karmin setelah Toyib selesai mengosongkan
isi buah zakarnya ke dalam vaginaku. Tapi Pak Karmin tetap memasukkan penisnya
ke vaginaku, sehingga sperma Toyib jadi meluber keluar. Setelah beberapa
goyangan, Pak Karmin juga menumpahkan spermanya di vaginaku. Aku tidak dapat
membayangkan kalau nanti aku akan hamil anak mereka, mudah-mudahan nggak deh.
Tapi kalau emang hamil gak apa juga sih, asal ntar anaknya mirip aku, hihihi..
Yang penting suamiku gak boleh tau kalau vagina istrinya pernah dipejuin
laki-laki lain selama dia pergi. Mereka
berdua rebah di ranjang, di sisi kiri dan kananku. Betul-betul luar biasa
rasanya, aku betul-betul puas. Untung saja mereka tidak minta nambah, soalnya
aku sudah lemas.
***
Setelah itu, aku selalu berjalan tertatih dan mengangkang
selama beberapa hari, mau duduk juga susah. Pak Karmin malah tertawa kecil
melihat tingkahku ini. Untung saja beberapa hari ini aku tidak keluar rumah,
bisa ditanyakan orang sekomplek ntar kenapa aku jalan ngangkang, masa mau jawab
habis dianalin Pak Karmin, gak mungkin kan…Beberapa hari sekali, Pak Karmin
selalu minta jatah padaku, kadang si Toyib juga kembali ikut-ikutan
menyetubuhiku. Hingga akhirnya aku hamil, tapi aku tidak tahu ini anak siapa.
Mungkin anak dari suamiku, tapi lebih besar kemungkinannya kalau ini anak dari
kacung atau tukang ledeng itu. Akupun mengabari suamiku kalau aku sedang hamil,
tentu saja dia sangat bahagia disana mendengarnya, padahal belum tentu ini
anaknya, hihihi. Tapi yang penting, suamiku tidak boleh tau kalau ketika dia
tidak di sisiku, aku bermain dibelakangnya dengan orang-orang ini. Makanya,
jangan kasih tahu dia yah…. Sssstttttttt!!!
0 komentar:
Posting Komentar